Bersyukurlah Dibalik Kesyukuran Orang-Orang yang Bersyukur

Oleh: redaksi Opini | Jumat, 02 Februari 2018 - 11:42:14 WIB

Bersyukurlah Dibalik Kesyukuran Orang-Orang yang Bersyukur

Drs H. Anwar Thaib (Wakil Ketua DPH LAMR Kec. Bengkalis)

Rasa syukur menyelimuti hidup diri ini yaitu di tahun 1948 lahir dari ibu tercinta Khodijah dan ayah Muhamad Thaib Satin. Masa itu Agresi Belanda hiruk pikuk letusan senjata sasaran peluru perlawanan anak negeri ini mempertahankan bangsa dari serangan penjajah. Perlawanan ini teragenda dengan nama Perang Pedekik dibawah komando militer Bapak H. R.Soebarantas, bersama penduduk negeri ini. Perjuangan itu melukiskan sejarah negeri ini banyak pejuang kita gugur dipertempuran itu. Diantaranya menghuni Makam Pahlawan Kesuma Kesatria Bengkalis, begitu juga dipemakaman umum lainnya. Bukti nyata perjuangan itu dikenal sosok pejuang yang masih hidup yaitu orang tua kita, Mbah Buang bertempat tinggal di Desa Selatbaru-Bengkalis. Saat penulis menjumpainya, beliau ada dalam keadaan sehat berusia lebih kurang 97 tahun. Disamping beliau juga menyempatkan diri mengunjungi Bapak H. Bakhriadi mantan Kepala Desa Selatbaru masa itu telah berusia remaja 16 tahun, banyak mengetahui kejadian itu, sekarang beliau berumur 86 tahun.

Ekspansi Belanda dari desa pedekik hingga merambah sampai ke Selatbaru, waktu itu hari jumat. Penduduk cemas berpikir antara hidup dan mati maka diminta pemuda bereaksi dari belakang karena banyak diwaktu itu penduduk dibawa tahanan Belanda. Dalam Ekspansi itu terjadi penembakan penduduk yang memainkan senjata, dia adalah Bapak Rajimun dan teman lain seperti Pak Masyhud, Santrik, Usman, Tarno. Mereka itu sekarang menghuni makam perkuburan umum didepan Kantor Kepala Desa Pasiran – Bantan sekarang ini. Semangat yang kuat penduduk walaupun berbekalkan parang panjang ditangan dan bambu runcing yang dapat digunakan dengan menusuk atau dilempar kalau benar musuh itu dekat. Sedangkan mereka diketahui bersenjata dapat digunakan dari jarak jauh, letusannya beruntun dan berapi. Artinya apa ada kegalauan pejuang namun dengan dorongan pandangan jihad nilai iman, takwa, dan doa semangat menjadi lebih kuat, bertekad dan tawakal bahwa musuh harus ditantang. Rasa syukur kita agresi ini memukul perlawanan pihak militer negeri ini dan tidak pada sasaran penduduk. Berpikir perlawanan itu ada kesempatan penduduk berdoa sebagai senjata ampuh umat ini sesuai keadaan penduduk dalam keadaan terancam dan lemah. Berkah doa dan tawanan yang diintrogasi Belanda menghubungkan berpikir kedua bangsa. Belanda merasakan bahwa ilmu dan pendekatan dapat menyatukan diantaranya sadar, sejarah telah mencatat diantara Belanda itu ada yang dalam perspektif sama dan bersama mengembangkan ajaran Islam. Mereka itu dikenal Dr. Dowes Deker atau Dr. Multatuli. Disamping itu mereka-mereka itu ada pula yang menikah yang anak keturunannya Indo Belanda dan banyak lainnya berkembangnya jasa-jasa industri Belanda di tanah air ini.

Semangat juang, kesyukuran dan doa pelaku sejarah serta masyarakat menambah catatan pengalaman penulis akan nilai ketakwaan kepada Yang Maha Kuasa. Sejalan kesyukuran itu dan bersyukurnya orang-orang yang bersyukur diantaranya anak kandung berbuat memberangkatkan penulis (Drs. H. Anwar Thaib) Umroh Ketanah Suci Mekkah yaitu pemberangkatan 5 Februari 2018. Sebelumnya memang telah menjalani Haji ditahun 2000 yang lalu. Inilah rezeki yang terjadi diluar pengetahuan kita. Mereka lain yang mengetahui dan mendengar yaitu teman-teman yang bersyukur ikut pula memberi, menambah apa yang diperlukan perjalanan ini. Mereka itu. cukuplah Yang Maha Kuasa yang tahu. Alhamdulillah, Penulis mendoakan kiranya perbuatan baik mereka membuahkan Ridho dan berkah Yang Maha Kuasa akan kehidupan anak dan keluarganya. Amin. Sesungguhnya mereka bersyukur itu mengetahui dan melihat gambaran hati dan peta kognitifnya. Agama menuntunnya sebagaimana yang disabdakan : “Doa-doa orang muslim untuk saudaranya sesama muslim dari kejauhan tanpa diketahuinya akan dikabulkan, malaikat ikut mengaminkan setiap kali ia berdoa”.  

Uluran tangan ini membuat penulis merasa haru bahwa mereka adalah sebatas teman, adik, tetangga dan penulis sempat menangis menerima pemberiannya walaupun dengan alasan yang diberikan sehingga ucapannya. terima, terima, terimalah.  Alhamdulillah penulis sadar begitulah orang yang bersyukur, tahu berbuat dan menanam benih kehidupan untuk hari depan, sebagaimana menanam benih sawit dan karet yang dibudidayakan cukup masa akan menghasilkan. Sifat bersyukur mereka dan kesempatan berhaji ditahun 2000 yang penulis jalani juga bagai kejadian yang serupa adalah bantuan teman mendaftarkan yang hari esok pendaftaran ditutup sedangkan saya masih berada di Jakarta belum berpikir pulang yaitu ingin melihat anak di Bandung. Dari berpikir ini itulah yang dikatakan pepatah melayu. “Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampau”. Teman yang pulang ke Bengkalis berbekalkan fotocopy KTP akhirnya diri ini terdaftar. Dia adalah Almarhum Bapak H. Sudirman BA kepadanya penulis sempatkan untuk memfidhiyah Fatihah untuknya. Mudah-mudahan Yang Kuasa memberikan berkah kebaikan dihari akhirat. Hal yang sama dengan bersyukur ini mendukung kegiatan sesuatu disuatu tempat mereka yang menerima juga mengungkapkan bahwa “Bapaklah orang pertama mendukung kegiatan ini”, dan seorang Bapak tua yang mengenali penulis mengungkapkan pula sebagai umpan balik dari mereka yang katanya “Hajilah ganjaran untuk Bapak”. Alhamdulillah terlaksana ditahun 2000 yang lalu.

Keberangkatan dan kesyukuran hari ini akan dilalui tanggal 5 februari 2018 memanfaatkan Travel Umrah Haji RWH (Riau Wisata Hati) Pekanbaru lanjut ke Singapore-Jeddah, Madinah dan Mekkah. Perjalanan ini ikut bersama istri Hj. Khuzaini, anak dan menantu. Penulis bersyukur inilah nikmat yang tidak terhingga dan tidak disangka yang dijanjikan yang kuasa yang katanya :

“Barang siapa yang benar-benar takwa kepada Yang Maha Kuasa niscaya diberikan-Nya jalan keluar dari kesulitannya dan akan memberi kepadanya rezeki yang tidak disangka-sangka”.

Apapun yang dipaparkan ini adalah nikmat sebagaimana yang kita terima disetiap harinya maka tidaklah ada alasan dari seseorang ini bahwa kita adalah ciptaannya, yaitu bagaimana berbuat bersyukur mengingatnya menjalani apa yang diperintahkan dan menjauhkan dari apa yang dilarangnya. Disamping berharap ada berkah dan Ridho dari-Nya, kenyataan ini membisikkan penulis dalam menjalani sisa usia ini benar-benar akan berbuat, berpikir akan hidup ketakwaan membawa hidup anak cucu generasi serta kerabat Negeri ini. Kepada semua kita setidak-tidaknya ada tindakan yang harus dicermati berbuat amal dan kebaikan diantaranya :

  1. Bila kita menangguh lagi berbuat kebaikan, menolak tindakan pengaruh negatif ini apalagi maraknya narkoba akan semakin jauh dan panjang waktu yang dipersiapkan dan semakin suram tercapainya kebaikan itu.
  2. Ketidaktahuan dari perlakuan salah kita dapat berpengaruh timbal balik dan negatif sesama kita tidak akan diterima generasi dan semakin jauh dari sifat-sifat bersyukur, sebagai wujud prilaku positif.
  3. Mari kita siapkan waktu berbuat amal kebaikan, bahwa kelemahan kehidupan ini semakin besar dan belum efektifnya tindakan-tindakan yang dilakukan.

 

Bapak ibu yang sama-sama bertanggung jawab apakah ini diterima untuk ditindaklanjuti, maka perlu ada gambaran tindakannya berbuat secara maksimal sebagaimana yang telah dilakukan orang-orang yang bersyukur yang tahu dibalik apa yang mereka kerjakan. Agama telah menuntun hambanya yang dalam artinya seperti :

  1. “Sesungguhnya Al-Quran memberi petunjuk kejalan yang lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang berbuat kebaikan bahwa bagi mereka ada pahala yang amat besar”.
  2. Menyangkut rezeki dengan bersyukur ini terungkap yang artinya “Barang siapa menghendaki tanaman pahala akhirat kami tambah pahalanya dan siapa yang menghendaki tanaman pahala didunia kami beri kepadanya dan tidak ada baginya untuk diakhirat”.

Akhirnya penulis tahu bahwa Bapak ibu berpikir sama dan jernih melepaskan diri dari lalai dan lupa. Memperkuat diri ini sebagai orang yang bertanggung jawab dan bersyukur mari kita beristghar, berbuatlah senantiasa memperdalam Al-Quran bahwa semakin dekat dengan Yang Maha Kuasa semakin jelas jalan keberhasilannya, bila menjauh kegagalan akan datang menjemput. Alhamdulillah Bapak Ibu lebih dari penulis yang penulis hanya sebatas menulis, Cuma akan lebih baik lagi bila Bapak ibu ikut bersama menulis apalagi berdakwah nasehat menasehati...“ Addinun Nasihhah”. 

Terima dan sambutlah salam rasa syukur ini bagaimana kita semua bersama-sama bertanggung jawab mulai dari diri ini rumah tangga berbuat ibadah  memakmurkan Masjid, mengikuti  majlis ilmu peringatan hari besar Islam, ceramah, dalam kehidupan bermasyarakat. Keikutsertaan beramal kebaikan yang dilakukan untuk kebaikan kita juga tetapi kelupaan dan kelalaian yang dilakukan berpengaruh besar terjadinya lupa dan lalai dari kesemuanya. Berbuatlah dari apa yang ada dengan keadaan yang ada. Mengambil makna dan hikmah judul ini maka sepatah yang dipaparkan dapat membawa kehidupan ini berbuat dan aktif tidak lepas dari prinsip belajar mengajar yaitu ada kesadaran, perubahan dan rasa. Bagaikan semakin membaik berhasil dan diterima dari apa yang disyukuri ini.  Hiduplah diri ini bagaikan prinsip hidup beragama yaitu Hijrah sebagaimana Hijrahnya Nabi. Menyambut rasa syukur judul ini perlu memperkuat sifat-sifat bersyukur yang diantaranya :

  1. Manusia dalam keadaan lemah, bila salah diakui, diperbaiki menjadi benar   dapat diterima dicontoh generasi karena ilmu yang diberikan adalah benar.
  2. Apapun kegiatan dan masukan harus diterima dibahas bersama ada keputusan ditolak atau diterima artinya tertanam sifat jujur dipercaya bagaikan nilai budaya hidup musyawarah dan mufakat.
  3. Jadilah kita sadar tahu akan hari ini, hari esok belum diketahui dan mungkin mati ingatlah “Jangan tinggalkan anak cucu ini dalam keadaan lemah”.
  4. Hendaknya  bersyukur ini harus digalakkan,menyerap jumlah orang yang diperhatikan. Ingatlah ibadah itu tiang agama dan juga tiang negara.
  5. Banyak yang lainnya pada hakekatnya berbuat kebaikan itu mencapai kemenangan diakherat yaitu menghendaki kita beriman, beramal soleh yang dijalankan dengan benar dan kesabaran.

Terimakasih penulis tahu bahwa kita orang-orang yang berbuat dan  bersyukur begitu juga dari kalangan kelompok organisasi dan badan-badan tertentu, namun kita juga tahu berapa lagi banyaknya mereka yang belum merasakan walaupun dari sisi kecil keseharian, apalagi seperti umroh dan haji yang didambakan setiap orang yang beriman. Diantara jumlah itu boleh juga dikatakan Mbah Buang pelaku sejarah negeri ini begitu juga Bapak H. Bakhriadi bersama dalam kapasitasnya sebagai remaja dan pemuda pada waktu agresif itu. Apalagi beliau menjalani tugas Kades Selatbaru selama 32 tahun. Demikian keadaan syukuran kita kalaupun ada kelemahannya mari diperbaiki bagaikan makna judul tulisan ini. “Bersyukurlah ...” Mudah-mudahan sepatah yang disampaikan dapat menjadi nilai kebaikan dan mohon ampun penulis kalau sepatah ini masuk dalam catatan amal keburukan. La Haulawalakuataillabillah.

Awal berbuat berlayar berperahu

Ada angin perahu melaju

Bila hidup berpikir maju

Ferry speadboat perangkat yang jitu

 

Kita hidup dibumi melayu

Pantang mundur senantiasa maju

Ilmu berbuat bersama bersatu

Tegakkan organisasi agama nomor satu  

 

Rampai Berpikir Majukan Negeri Buku 5

Oleh : Drs H. Anwar Thaib (Melayu Bengkalis)

 

 

 

 

 

 

  Print Berita

Redaksi menerima kiriman berita dan foto. Bagi yang berminat silahkan kirim berita dan foto Anda ke email:prodesanews@gmail.com

0 Komentar

Tulis Komentar

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Komentar Facebook